Akhlakul Karimah Yang Sering Terlupakan
Oleh : Karjianto, S.Pd.I., M.Pd.I
Salah satu akhlak terpuji yang sering
dilupakan oleh manusia adalah Muhasabah, atau intropeksi diri, atau
dalam istilah manajemen organisasi sering kita menyebutnya penilaian
(Evaluating). Hal ini dikarekanan kesibukan manusia terhadap kehidupan
dunia ini, mulai dari sibuk urusan bisnis, pekerjaan, hiburan, shoping,
jalan-jalan, menonton, seharian sibuk menggunakan media sosial tanpa
mengenal waktu. Sehingga lupa, tanpa memikirkan apa yang akan menjadi
bekalnya di akhirat nanti. Kita sering melaksanakan perintah Allah SWT,
hanya sekedar melaksanakan rutinitas saja, tanpa membekas dan berdampak
pada akhlak mulia.
Kita melaksakan sholat lima waktu setiap
harinya, namun kita masih sering ugal-ugalan saat berkendaraan di jalan
raya, kita masih sering mencaci maki oranglain, kita tidak peduli dengan
keadaan tetangga. Kita mampu berpuasa di bulan Ramadhan, puasa sunnah
Senin dan Kamis, mengeluarkan zakat setiap tahunnya akan tetapi semua
itu tidak berdampak pada akhlak dan kepribadian kita, maksiat pun
terkadang masih kita lakukan, membuat berita bohong (hoax), memfitnah
dan menghujat masih merajalela tanpa rasa bersalah. Bahkan untuk
memotivasi diri sendiri dengan memperbaiki amalan-amalan yang ada tak
kunjung hadir, penyebabnya adalah karena kita telah melupakan muhasabah
diri, sehingga orang-orang seperti kita sudah merasa benar, merasa
hebat, merasa pintar, dan merasa cukup, dengan amalan yang telah kita
lakukan.
Apa Itu Muhasabah
Muhasabah berasal dari akar kata
hasiba, yahsabu, hisab, yang artinya secara etimologis adalah melakukan
perhitungan. Dalam istilah terminologi syari, muhasabah adalah sebuah
upaya evaluasi diri terhadap kebaikan dan keburukan dalam semua
aspeknya. Baik secara vertikal, hubungan manusia hamba dengan Allah.
Maupun secara hubungan horisontal, yaitu hubungan manusia dengan sesama
manusia yang lainnya dalam kehidupan sosial. Sedangkan dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia, kata muhasabah diartikan sebagai introspeksi.
sementara kata introspeksi itu sendiri diartikan sebagai peninjauan atau
koreksi terhadap perbuatan, sikap, kelemahan, dan kesalahan diri
sendiri.
Kenali Muhasabah
Kita telah memasuki awal tahun baru 1439 Hijriyah. Sebuah pelajaran hidup terbesar adalah bahwa Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri) secara menyeluruh. Mulai dari keimanan, keislaman, ibadah wajib maupun sunnah yang sering kita lakukan, akhlak kita, pergaulan kita sesama manusia, ilmu yang kita miliki apakah sudah bermanfaat untuk diri dan orang lain, kewajiban kita, tanggung jawab kita, bagaimana perhatian kita terhadap aqidah keluarga, hingga kontribusi kita bagi perjuangan menegakkan kalimah Allah, dalam dakwah.
Kenali Muhasabah
Kita telah memasuki awal tahun baru 1439 Hijriyah. Sebuah pelajaran hidup terbesar adalah bahwa Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri) secara menyeluruh. Mulai dari keimanan, keislaman, ibadah wajib maupun sunnah yang sering kita lakukan, akhlak kita, pergaulan kita sesama manusia, ilmu yang kita miliki apakah sudah bermanfaat untuk diri dan orang lain, kewajiban kita, tanggung jawab kita, bagaimana perhatian kita terhadap aqidah keluarga, hingga kontribusi kita bagi perjuangan menegakkan kalimah Allah, dalam dakwah.
Coba luangkan waktu sejenak untuk meresapi
bagaimana cintanya Allah kepada mahluk ciptaannya, Allah mengetuk hati
dan pikiran kita lewat sebuah firman-Nya dalam Surat al-Hasyr ayat 18 :
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah
setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
(akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Kalau kita ingin selami lebih dalam ayat
di atas, Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, "Evaluasilah diri kalian
sebelum amal perbuatan kalian dihitung, periksalah kembali amal
perbuatan yang kalian simpan untuk diri kalian demi hari dimana kalian
akan dikembalikan dan diperlihatkan kepada Tuhan kalian!" (Tafsir
al-Quran al-'Azhim,:450)
Dengan muhasabah atau evaluasi itulah menjadi kunci utama dalam kehidupan kita untuk menyongsong hari yang akan datang dengan lebih baik lagi dalam ridha Allah. Tepat rasanya jika Rasulullah SAW orang yang telah dijamin bebas dari dosa, menaruh perhatian besar terhadap umatnya untuk bermuhasabah, sebagaimana sabdanya :
Dengan muhasabah atau evaluasi itulah menjadi kunci utama dalam kehidupan kita untuk menyongsong hari yang akan datang dengan lebih baik lagi dalam ridha Allah. Tepat rasanya jika Rasulullah SAW orang yang telah dijamin bebas dari dosa, menaruh perhatian besar terhadap umatnya untuk bermuhasabah, sebagaimana sabdanya :
Dari Syadad bin Aus r.a., dari Rasulullah
SAW, bersabda: “Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi)
dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian.
Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya
serta berangan-angan terhadap Allah SWT”. (HR. Imam Turmudzi, ia
berkata, ‘Hadits ini adalah hadits hasan’)
Hadits ini menggambarkan pentingnya
muhasabah dalam menjalani kehidupan di dunia ini, bahkan Rasulullah Saw
menyebut orang yang pandai, pintar atau cerdas adalah mereka yang dapat
mengevaluasi dirinya, amal-amalnya untuk bekal dihari kemudian. Oleh
karenanya muhasabah diri merupakan hal yang sangat penting untuk menilai
apakah amal perbuatannya yang kita lakukan ini sudah sesuai dengan
ketentuan Allah, dan Sunnah Rasulullah Saw. Tanpa introspeksi, jiwa
manusia tidak akan menjadi baik.
Imam Turmudzi meriwayatkan tentang ungkapan khalifah Umar bin Khattab mengenai urgensi muhasabah.
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk akhirat (yaumul hisab).
Imam Turmudzi meriwayatkan tentang ungkapan khalifah Umar bin Khattab mengenai urgensi muhasabah.
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk akhirat (yaumul hisab).
Bahkan Al Hasan juga pernah mengatakan :
“orang-orang mumin selalu mengevaluasi dirinya karena Allah. Dan
bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang
yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia”.
Dengan muhasabah inilah, kita dapat
mengetahui kelemahan dan kelebihan kita pada waktu yang lalu, perbaikan
hari ini terus dilakukan untuk mempersiapkan diri dan merencanakan waktu
yang akan datang dengan lebih baik lagi.
Teknik Bermuhasabah
Menurut Abdullah Gymnastiar atau yang sering disapa Aa Gym ada lima teknik muhasabah, diantara ;
Pertama, Tafakur diri, yaitu seseorang dapat menyediakan waktu untuk dirinya sendiri, untuk berkata jujur kepada diri sendiri. Bersikap intregitas artinya bersesuaian antara ucapan dan tindakannya dalam kehidupan sehari-hari. Sudahkah kita mengisi waktu pada kebermanfaatan serta kemajuan bersama. Kita dihormati orang lain karena Allah masih menutupi aib dan keburukan kita. Menurut Aa Gym jangan tertipu dengan kekaguman orang karena mereka tidak tahu aib-aib kita.
Pertama, Tafakur diri, yaitu seseorang dapat menyediakan waktu untuk dirinya sendiri, untuk berkata jujur kepada diri sendiri. Bersikap intregitas artinya bersesuaian antara ucapan dan tindakannya dalam kehidupan sehari-hari. Sudahkah kita mengisi waktu pada kebermanfaatan serta kemajuan bersama. Kita dihormati orang lain karena Allah masih menutupi aib dan keburukan kita. Menurut Aa Gym jangan tertipu dengan kekaguman orang karena mereka tidak tahu aib-aib kita.
Kedua, Milikilah Cermin pribadi.
Cermin yang dimaksud adalah adanya orang yang berani jujur menyampaikan
apa adanya tentang keburukan kita. Boleh jadi dia adalah sahabat atau
teman yang selalu mengingatkan dan menegur kita ketika berbuat salah.
Ternyata kita sangat butuh orang yang mengatakan apa adanya tentang diri
kita. Olehnya tidak perlu orang harus kagum kepada kita. Dengan
oranglain mengkritik atau mengoreksi diri kita tentunya tidak akan
merugikan apapun dan siapapun, maka koreksi yang keluar dari hati tidak
akan melukai diri, justru menjadi pemicu semangat untuk melakukan
hal-hal yang terbaik lagi.
Ketiga. Berguru kepada yang ahli.
Sebaik-baik guru adalah guru yang mengamalkan apa yang disampaikannya.
Bukan hanya sekedar teori yang hebat, melainkan sikap dan prilaku sang
guru dapat dijadikan keteladanan dalam hidup. Seorang guru yang baik
adalah guru yang dapat memberikan inspirasi untuk para muridnya,
inspirasi untuk menjadi manusia yang terbaik dan bermanfaat.
Keempat, Manfaatkan orang yang membenci kita justru sebuah rezeki,
sebab mereka adalah orang yang sesungguhnya perhatian kepada kita.
mereka tahu pasti tentang kelemahan dan kekurangan kita, dengan
kebencian mereka akan melahirkan pahala untuk kita. Jangan benci orang
yang membenci kita. Saya sepakat dengan ungkapan sahabat saya Arfan Nusi
dalam bukunya Harmoni di Ujung kata” kalu kita dihina biarkan hinaan
itu menjadi motivasi hidup kita, karena hanya pohon yang berbuah manis
yang selalu dilempari batu, walau selalu dilempari ia membalas dengan
buahnya yang manis dari atas pohon. Kalu kita dijelek-jelekin di
belakang, biarkanlah, berarti orang tersebut adalah fans terberatmuyang
secara diam-diam menghabiskan waktunya untuk memperhatikan kehidupanmu”
itu kata super terucap dari sahabtku.
Kelima, Tafakuri Apa yang Terjadi.
Setiap kejadian yang adalah selalu ada hikmahnya. Menurut Aa Gyim bahwa
mendapatkan ilmu bukan hanya dari ceramah, tapi bisa belajar dari mana
saja, dari buku, dari teman dan dari kejadian-kejadian alam atau
pengalaman yang pernah mengajarkan kepada kita. Olehnya semua amalan
yang kita lakukan semata-mata untuk mengubah diri menjadi yang terbaik
agar Allah SWT Ridha.
Kapan memulai muhasabah?
Kapan memulai muhasabah?
Kalu kita perhatikan dan belajar tentang
kehidupan ini sesungguhnya manusia tidaklah kekal, terbatas, hidup di
dunia ini hanya sementara, kalau kita berpatokan umur Rasullah Saw
adalah 63 tahun, maka umur kita kurang lebih seperti itu. Namun semua
tidak menjamin, kita tidak tahu kapan ajal akan tiba, di mana tempatnya,
dan sedang apa seseorang menemui kematiannya, karena itu sudah
semestinya kita lakukan Muhasabah atau intropeksi dari sejak sekarang
tanpa menunda-nunda waktu. Karena Allah SWT dan Rasulnya memerintahkan
kepada kita untuk selalu bermuhasabah setelah atau sebelum melakukan
amal. Sudah saatnya kita harus merubah diri, istiqomah melakukan
muhasabah diri untuk mengoreksi berbagai amalan yang telah kita lakukan.
Kalu bukan pribadi kita masing-masing yang bermuhasabah lalu siapa
lagi, kalu bukan sekarang bermuhasabah kapan lagi. Semoga bermanfaat.
Karjianto, S.Pd.I., M.Pd.I; Guru Akidah Akhlak dan Ushul Fiqih MAN 2 Kab. Gorontalo, dan Ketua PC Pergunu Kab. Gorontalo Utara.
sumber: http://gorontalo.kemenag.go.id/opini/402/akhlak-terpuji-yang-sering-terlupakan

0 Response to "Akhlakul Karimah Yang Sering Terlupakan"
Post a Comment