Shalat dan Syahwat, Bagaimana Hakikatnya
![]() |
| foto kemenag sumsel |
“Maka
datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan
shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui
kesesatan. Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal shaleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun.” (QS: Maryam ayat 60)
Ibnu Katsir menjelaskan, generasi yang adhoo’ush shalah
itu, kalau mereka sudah menyianyiakan shalat, maka pasti mereka lebih
menyia-nyiakan kewajiban-kewajiban lainnya. Karena shalat itu adalah
tiang agama dan pilarnya, dan sebaik-baik perbuatan hamba. Dan akan
tambah lagi (keburukan mereka) dengan mengikuti syahwat dunia dan
kelezatannya, senang dengan kehidupan dan kenikmatan dunia. Maka mereka itu akan menemui kesesatan, kerugian di hari akhir nanti.
Adapun maksud lafazh Adho’us shalah ini, para ulama berpendapat bahwa adho’us shalat itu meninggalkan shalat secara keseluruhan (tarkuhaa bilkulliyyah). Sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah SAW: “(Perbedaan) antara hamba dan kemusyrikan itu adalah meninggalkan shalat.” (HR: Muslim). Dalam hadits yang lain: ”Batas yang ada di antara kami dan mereka adalah shalat, maka barang siapa meninggalkannya, sungguh-sungguh ia telah kafir.” (HR: At-Tirmidzi)
Penuturan baik dalam ayat Al-Qur’an maupun Hadits tersebut di atas, membicarakan orang-orang shaleh, orang-orang terpilih, bahkan nabi-nabi
dengan sikap patuhnya yang amat tinggi. Mereka bersujud dan menangis
ketika dibacakan ayat-ayat Allah. Namun selanjutnya disambung dengan
ayat yang memberitakan sifat-sifat generasi pengganti yang jauh berbeda,
bahkan berlawanan dari sifat-sifat kepatuhan yang tinggi tersebut,
yaitu sikap generasi penerus yang menyia-nyiakan shalat dan mengumbar hawa nafsu (syahwat).
Betapa menghujamnya peringatan Allah dalam Al-Qur’an, begitu jelasnya Rasulullah SAW dengan cara menuturkan sejarah “keluarga pilihan” yang datang setelah mereka generasi manusia bobrok yang sangat merosot moralnya. Bobroknya akhlaq manusia dari keturunan orang yang disebut manusia pilihan berarti merupakan tingkah yang keterlaluan.
Bisa kita bayangkan dalam kehidupan ini, kalau ada ulama besar yang
shaleh dan benar-benar baik, lantas keturunannya tidak bisa menyamai kebesarannya dan tak mampu mewarisi keulamaannya, maka ucapan yang pas adalah “sayang, kebesaran bapaknya tidak diwarisi oleh anak-anaknya.”
Itu
baru masalah mutu keilmuan yang merosot, lantas kata dan ucapan apa
lagi yang bisa untuk menyayangkan bejat dan bobroknya generasi pengganti
orang-orang suci dan shaleh itu? Hanya mampu kita mengucapkan “seribu
kali sayang”. Setelah kita bisa menyadari betapa tragisnya keadaan yang
dituturkan Al-Qur’an
itu, agaknya perlu juga kita bercermin di depan kaca dengan melihat
diri kita sendiri, dan membandingkan apa yang dikisahkan Al-Qur’an kepada kita semua.
Kisah
ayat itu, tidak menyinggung orang yang membangkang disaat hidupnya para
Nabi pilihan Allah. Sedangkan jumlah orang yang membangkang tidak
sedikit, bahkan melawan para Nabi dengan berbagai daya upaya. Ayat
itu tidak menyebut orang-orang kafir, bukan berarti tidak ada
orang-orang kafir. Namun dengan menyebut keluarga-keluarga pilihan itu
justru merupakan pengkhususan yang lebih tajam. Di saat banyaknya orang
kafir berkeliaran di bumi, saat itu pula ada orang-orang pilihan yang
amat patuh kepada Allah. Tetapi masalah kita semua adalah, generasi taat
itu diteruskan oleh generasi yang bobrok akhlaqnya.
Dalam
kehidupan yang tertera dalam sejarah, kaum muslimin yang taat disaat
penjajah berkuasa terjadi perampasan hak, kedhaliman merajalela dan
sebagainya. Ada tanam paksa dan sebagainya; mereka yang tetap teguh dan
ta'at kepada Allah itu adalah benar-benar orang pilihan. Kaum muslimin
yang tetap menegakkan Islam di saat orientalis dan antek-antek penjajah
menggunakan Islam sebagai sarana penjajahan, namun kaum muslimin itu
tetap teguh mempertahankan Islam dan tanah airnya, tidak hanyut kepada
iming-iming jabatan untuk ikut menjajah bangsanya, maka mereka
benar-benar orang-orang pilihan.
Sekalipun tidak sama antara derajat keshalehan para Nabi yang dicontohkan dalam Al-qur’an, dengan derajat keta’atan
kaum muslimin yang taat kepada Allah di saat gencarnya penjajahan,
namun alur peringatan ini telah mencakupnya. Dengan demikian, bisa kita
fahami bahwa ayat-ayat Allah mengingatkan jangan sampai terjadi lagi apa
yang telah terjadi di masa lampau. Dimana generasi pengganti yang
buruk, yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu (syahwatnya).
Peringatan yang sebenarnya tajam ini perlu
disebar luaskan, dihayati dan dipegang dengan sungguh-sungguh, dengan
penuh kesadaran, agar tidak terjadi tragedi yang telah menimpa kaum Bani
Israel, kaum Yahudi yang mengikuti syahwat. Untuk
itu, kita harus mengkaji diri kita masing-masing, sudahkan peringatan
Allah itu kita sadari dan kita hayati, kita renungkan dan kita cari
jalan keluarnya? Mudah-mudahan
sudah kita laksanakan, tetapi tentu saja bukan berarti telah selesai
karena masalahnya harus selalu dipertahankan. Tanpa upaya
mempertahankannya, kemungkinan akan lebih banyak desakan dan dorongan
yang mengarah pada adho’us shalah (menyia-nyiakan atau meninggalkan shalat) wattaba’us syahawaat (dan mengikuti syahwat hawa nafsu).
Suatu
misal, kasus nyata bisa kita telusuri lewat pertanyaan-pertanyaan.
Sudahkah kita berikan dan kita usahakan hak-hak para pekerja/buruh,
pekerja kecil, pembantu rumah tangga, penjaga rumah makan, penjaga toko
dan sebagainya untuk diberi kebebasan mengerjakan shalat pada waktunya,
terutama maghrib yang waktunya sempit? Berapa banyak pekerja kecil
semacam itu yang terhimpit oleh peraturan majikan, tetapi kita umat
Islam diam saja atau belum mampu menolong sesama muslim yang terhimpit
itu?
Bahkan,
dalam arena pendidikan formal, yang diseleng-garakan dengan tujuan
membina manusia yang bertaqwa pun, sudahkah memberi kebebasan secara
baik kepada murid dan guru untuk menjalankan salat? Sudahkah diberi
sarana secara memadai di kampus-kampus dan
tempat-tempat pendidikan untuk menjalan-kan salat? Dan sudahkah para
murid itu diberi bimbingan secara memadai untuk mampu mendirikan salat
sesuai dengan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.
Ayat-ayat Al-Qur’an
yang telah memberi peringatan dengan tegas ini mestinya kita sambut
pula dengan semangat menang-gulangi munculnya generasi sampah yang
menyianyiakan shalat dan bahkan mengumbar syahwat. Dalam arti penjabaran
dan pelaksanaan agama dengan amar ma’ruf
nahi munkar secara konsekuen dan terus menerus, sehingga dalam hal
beragama, kita akan mewariskan generasi yang benar-benar diharapkan,
bukan generasi yang bobrok seperti yang telah diceritakan dalam Al-Qur’an.
Dalam hubungan kemasyarakatan yang erat sekali hubungannya
dengan ekonomi, terutama masalah kemiskinan, sudahkah kita memberi
sumbangan sarung atau mukena kepada fakir miskin, agar mereka bisa tetap
shalat di saat mukenanya yang satu-satunya basah ketika dicuci
pada musim hujan ini? Dalam urusan keluarga, sudahkah kita selalu
bertanya dan mengontrol anak-anak kita setiap waktu shalat agar mereka
tidak lalai?
Dalam urusan efektifitas da’wah, sudahkah kita menghidup-kan jama’ah
di masjid-masjid kampus pendidikan yang ada disekitar kita, agar para
alumninya ataupun mahasiswa yang masih belajar di sana tetap mendirikan
shalat, dan tidak mengarah ke pemikiran sekuler yang nilainya sama juga
dengan mengikuti syahwat? Lebih
penting lagi, sudahkah kita mengingatkan para pengurus masjid atau
mushalla atau langgar untuk shalat ke masjid yang diurusinya? Bahkan
sudahkah para pegawai yang ada dikantor-kantor kita ingatkan agar shalat
berjamaah di
Masjid yang menjadi tempat mereka bekerja, sehingga tidak tampak lagi
sosok-sosok yang tetap bertahan di meja masing-masing bahkan sambil
merokok lagi saat adzan dikumandangkan?
Masih
banyak lagi yang menjadi tanggung jawab kita untuk menanggulangi agar
tidak terjadi generasi yang meninggalkan shalat yang disebut dalam Al-Qur’an. Peringatan yang ada di ayat tersebut masih ditambah dengan adanya penegasan dari Rasulullah SAW: “Tali-tali
Islam pasti akan putus satu persatu. Maka setiap kali putus satu tali
(lalu) manusia (dengan sendirinya) bergantung dengan tali yang
berikutnya. Dan tali Islam yang pertamakali putus adalah hukum(nya),
sedang yang terakhir (putus) adalah salat.” (HR: Ahmad)
Hadits Rasulullah itu lebih gamblang lagi, bahwa putusnya tali Islam yang terakhir adalah shalat. Selagi
shalat itu masih didirikan oleh umat Islam, berarti masih ada tali
dalam Islam itu. Sebaliknya kalau shalat sudah tidak ditegakkan, maka
putuslah Islam keseluruhannya, karena shalat adalah tali yang terakhir dalam Islam. Maka tak mengherankan kalau Allah menyebut tingkah “adho’us sholah” (menyia-nyiakan/meninggalkan salat) dalam ayat tersebut diucapkan pada urutan lebih dulu dibanding “ittaba’us syahawaat”
(menuruti syahwat), sekalipun tingkah menuruti syahwat itu sudah
merupakan puncak kebejatan moral manusia. Dengan demikian, bisa kita
fahami, betapa memuncaknya nilai jelek orang-orang yang meninggalkan
shalat, karena puncak kebejatan moral mengikuti syahwat masih pada
urutan belakang dibanding tingkah meninggalkan shalat.
Di
mata manusia, bisa disadari betapa jahatnya orang yang mengumbar hawa
nafsunya. Lantas, kalau Allah memberikan kriteria meninggalkan shalat
itu lebih tinggi kejahatannya, berarti kerusakan yang amat parah.
Apalagi kalau kedua-duanya dilakukan, meninggalkan shalat dan menuruti
syahwat, sudah bisa dipastikan betapa beratnya kerusakan.
Tiada
perkataan yang lebih benar dari pada perkataan Allah dan Rasul-Nya.
Dalam hal ini Allah dan Rasul-Nya sangat mengecam orang yang
meninggalkan shalat dan menuruti syahwat. Maka marilah kita jaga diri
kita dan generasi keturunan kita dari kebinasaan yang jelas-jelas
diperingatkan oleh Allah dan Rasul-Nya itu. Mudah-mudahan kita tidak
termasuk kepada mereka yang telah dan akan binasa akibat melakukan pelanggaran amat besar, yaitu meninggalkan shalat dan menuruti syahwat.(sumber artikel: https:// sumsel.kemenag.go.id/opiniview/1632/hakikat-shalat-dan-syahwat).

0 Response to "Shalat dan Syahwat, Bagaimana Hakikatnya"
Post a Comment