Shalat dan Syahwat, Bagaimana Hakikatnya

foto kemenag sumsel
Hasbi Mustofa, S.Ag. , M.Si.; Penyuluh Agama Fungsional Kankemenag Kota Lubuklinggau
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal shaleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun. (QS: Maryam ayat 60)
Ibnu Katsir menjelaskan, generasi yang adhoo’ush shalah itu, kalau mereka sudah menyianyiakan shalat, maka pasti mereka lebih menyia-nyiakan kewajiban-kewajiban lainnya. Karena shalat itu adalah tiang agama dan pilarnya, dan sebaik-baik perbuatan hamba. Dan akan tambah lagi (keburukan mereka) dengan mengikuti syahwat dunia dan kelezatannya, senang dengan kehidupan dan kenikmatan dunia.  Maka mereka itu akan menemui kesesatan, kerugian di hari akhir nanti.

Adapun maksud lafazh Adho’us shalah ini, para ulama berpendapat bahwa adhous shalat itu meninggalkan shalat secara keseluruhan (tarkuhaa bilkulliyyah). Sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah SAW: (Perbedaan) antara hamba dan kemusyrikan itu adalah meninggalkan shalat.” (HR: Muslim). Dalam hadits yang lain: ”Batas yang ada di antara kami dan mereka adalah shalat, maka barang siapa meninggalkannya, sungguh-sungguh ia telah kafir.” (HR: At-Tirmidzi)
Penuturan baik dalam ayat Al-Quran maupun Hadits tersebut di atas, membicarakan orang-orang shaleh, orang-orang terpilih, bahkan nabi-nabi dengan sikap patuhnya yang amat tinggi. Mereka bersujud dan menangis ketika dibacakan ayat-ayat Allah. Namun selanjutnya disambung dengan ayat yang memberitakan sifat-sifat generasi pengganti yang jauh berbeda, bahkan berlawanan dari sifat-sifat kepatuhan yang tinggi tersebut, yaitu sikap generasi penerus yang menyia-nyiakan shalat dan mengumbar hawa nafsu (syahwat).
Betapa menghujamnya peringatan Allah dalam Al-Quran, begitu jelasnya Rasulullah SAW dengan cara menuturkan sejarah keluarga pilihan yang datang setelah mereka generasi manusia bobrok yang sangat merosot moralnya. Bobroknya akhlaq manusia dari keturunan orang yang disebut manusia pilihan berarti merupakan tingkah yang keterlaluan. Bisa kita bayangkan dalam kehidupan ini, kalau ada ulama besar yang shaleh dan benar-benar baik, lantas keturunannya tidak bisa menyamai kebesarannya dan tak mampu mewarisi keulamaannya, maka ucapan yang pas adalah sayang, kebesaran bapaknya tidak diwarisi oleh anak-anaknya.
Itu baru masalah mutu keilmuan yang merosot, lantas kata dan ucapan apa lagi yang bisa untuk menyayangkan bejat dan bobroknya generasi pengganti orang-orang suci dan shaleh itu? Hanya mampu kita mengucapkan “seribu kali sayang”. Setelah kita bisa menyadari betapa tragisnya keadaan yang dituturkan Al-Quran itu, agaknya perlu juga kita bercermin di depan kaca dengan melihat diri kita sendiri, dan membandingkan apa yang dikisahkan Al-Quran kepada kita semua.
Kisah ayat itu, tidak menyinggung orang yang membangkang disaat hidupnya para Nabi pilihan Allah. Sedangkan jumlah orang yang membangkang tidak sedikit, bahkan melawan para Nabi dengan berbagai daya upaya. Ayat itu tidak menyebut orang-orang kafir, bukan berarti tidak ada orang-orang kafir. Namun dengan menyebut keluarga-keluarga pilihan itu justru merupakan pengkhususan yang lebih tajam. Di saat banyaknya orang kafir berkeliaran di bumi, saat itu pula ada orang-orang pilihan yang amat patuh kepada Allah. Tetapi masalah kita semua adalah, generasi taat itu diteruskan oleh generasi yang bobrok akhlaqnya.
Dalam kehidupan yang tertera dalam sejarah, kaum muslimin yang taat disaat penjajah berkuasa terjadi perampasan hak, kedhaliman merajalela dan sebagainya. Ada tanam paksa dan sebagainya; mereka yang tetap teguh dan ta'at kepada Allah itu adalah benar-benar orang pilihan. Kaum muslimin yang tetap menegakkan Islam di saat orientalis dan antek-antek penjajah menggunakan Islam sebagai sarana penjajahan, namun kaum muslimin itu tetap teguh mempertahankan Islam dan tanah airnya, tidak hanyut kepada iming-iming jabatan untuk ikut menjajah bangsanya, maka mereka benar-benar orang-orang pilihan.
Sekalipun tidak sama antara derajat keshalehan para Nabi yang dicontohkan dalam Al-quran, dengan derajat ketaatan kaum muslimin yang taat kepada Allah di saat gencarnya penjajahan, namun alur peringatan ini telah mencakupnya. Dengan demikian, bisa kita fahami bahwa ayat-ayat Allah mengingatkan jangan sampai terjadi lagi apa yang telah terjadi di masa lampau. Dimana generasi pengganti yang buruk, yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu (syahwatnya).
Peringatan yang sebenarnya tajam ini perlu disebar luaskan, dihayati dan dipegang dengan sungguh-sungguh, dengan penuh kesadaran, agar tidak terjadi tragedi yang telah menimpa kaum Bani Israel, kaum Yahudi yang mengikuti syahwat. Untuk itu, kita harus mengkaji diri kita masing-masing, sudahkan peringatan Allah itu kita sadari dan kita hayati, kita renungkan dan kita cari jalan keluarnya? Mudah-mudahan sudah kita laksanakan, tetapi tentu saja bukan berarti telah selesai karena masalahnya harus selalu dipertahankan. Tanpa upaya mempertahankannya, kemungkinan akan lebih banyak desakan dan dorongan yang mengarah pada adhous shalah (menyia-nyiakan atau meninggalkan shalat) wattabaus syahawaat (dan mengikuti syahwat hawa nafsu).
Suatu misal, kasus nyata bisa kita telusuri lewat pertanyaan-pertanyaan. Sudahkah kita berikan dan kita usahakan hak-hak para pekerja/buruh, pekerja kecil, pembantu rumah tangga, penjaga rumah makan, penjaga toko dan sebagainya untuk diberi kebebasan mengerjakan shalat pada waktunya, terutama maghrib yang waktunya sempit? Berapa banyak pekerja kecil semacam itu yang terhimpit oleh peraturan majikan, tetapi kita umat Islam diam saja atau belum mampu menolong sesama muslim yang terhimpit itu?
Bahkan, dalam arena pendidikan formal, yang diseleng-garakan dengan tujuan membina manusia yang bertaqwa pun, sudahkah memberi kebebasan secara baik kepada murid dan guru untuk menjalankan salat? Sudahkah diberi sarana secara memadai di kampus-kampus dan tempat-tempat pendidikan untuk menjalan-kan salat? Dan sudahkah para murid itu diberi bimbingan secara memadai untuk mampu mendirikan salat sesuai dengan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.
Ayat-ayat Al-Quran yang telah memberi peringatan dengan tegas ini mestinya kita sambut pula dengan semangat menang-gulangi munculnya generasi sampah yang menyianyiakan shalat dan bahkan mengumbar syahwat. Dalam arti penjabaran dan pelaksanaan agama dengan amar maruf nahi munkar secara konsekuen dan terus menerus, sehingga dalam hal beragama, kita akan mewariskan generasi yang benar-benar diharapkan, bukan generasi yang bobrok seperti yang telah diceritakan dalam Al-Quran.
Dalam hubungan kemasyarakatan yang erat sekali hubungannya dengan ekonomi, terutama masalah kemiskinan, sudahkah kita memberi sumbangan sarung atau mukena kepada fakir miskin, agar mereka bisa tetap shalat di saat mukenanya yang satu-satunya basah ketika dicuci pada musim hujan ini? Dalam urusan keluarga, sudahkah kita selalu bertanya dan mengontrol anak-anak kita setiap waktu shalat agar mereka tidak lalai?
Dalam urusan efektifitas da’wah, sudahkah kita menghidup-kan jamaah di masjid-masjid kampus pendidikan yang ada disekitar kita, agar para alumninya ataupun mahasiswa yang masih belajar di sana tetap mendirikan shalat, dan tidak mengarah ke pemikiran sekuler yang nilainya sama juga dengan mengikuti syahwat? Lebih penting lagi, sudahkah kita mengingatkan para pengurus masjid atau mushalla atau langgar untuk shalat ke masjid yang diurusinya? Bahkan sudahkah para pegawai yang ada dikantor-kantor kita ingatkan agar shalat berjamaah di Masjid yang menjadi tempat mereka bekerja, sehingga tidak tampak lagi sosok-sosok yang tetap bertahan di meja masing-masing bahkan sambil merokok lagi saat adzan dikumandangkan?
Masih banyak lagi yang menjadi tanggung jawab kita untuk menanggulangi agar tidak terjadi generasi yang meninggalkan shalat yang disebut dalam Al-Quran. Peringatan yang ada di ayat tersebut masih ditambah dengan adanya penegasan dari Rasulullah SAW: “Tali-tali Islam pasti akan putus satu persatu. Maka setiap kali putus satu tali (lalu) manusia (dengan sendirinya) bergantung dengan tali yang berikutnya. Dan tali Islam yang pertamakali putus adalah hukum(nya), sedang yang terakhir (putus) adalah salat. (HR: Ahmad)
Hadits Rasulullah itu lebih gamblang lagi, bahwa putusnya tali Islam yang terakhir adalah shalat. Selagi shalat itu masih didirikan oleh umat Islam, berarti masih ada tali dalam Islam itu. Sebaliknya kalau shalat sudah tidak ditegakkan, maka putuslah Islam keseluruhannya, karena shalat adalah tali yang terakhir dalam Islam. Maka tak mengherankan kalau Allah menyebut tingkah adhous sholah (menyia-nyiakan/meninggalkan salat) dalam ayat tersebut diucapkan pada urutan lebih dulu dibanding ittabaus syahawaat (menuruti syahwat), sekalipun tingkah menuruti syahwat itu sudah merupakan puncak kebejatan moral manusia. Dengan demikian, bisa kita fahami, betapa memuncaknya nilai jelek orang-orang yang meninggalkan shalat, karena puncak kebejatan moral mengikuti syahwat masih pada urutan belakang dibanding tingkah meninggalkan shalat.
Di mata manusia, bisa disadari betapa jahatnya orang yang mengumbar hawa nafsunya. Lantas, kalau Allah memberikan kriteria meninggalkan shalat itu lebih tinggi kejahatannya, berarti kerusakan yang amat parah. Apalagi kalau kedua-duanya dilakukan, meninggalkan shalat dan menuruti syahwat, sudah bisa dipastikan betapa beratnya kerusakan.
Tiada perkataan yang lebih benar dari pada perkataan Allah dan Rasul-Nya. Dalam hal ini Allah dan Rasul-Nya sangat mengecam orang yang meninggalkan shalat dan menuruti syahwat. Maka marilah kita jaga diri kita dan generasi keturunan kita dari kebinasaan yang jelas-jelas diperingatkan oleh Allah dan Rasul-Nya itu. Mudah-mudahan kita tidak termasuk kepada mereka yang telah dan akan binasa akibat melakukan pelanggaran amat besar, yaitu meninggalkan shalat dan menuruti syahwat.(sumber artikel: https:// sumsel.kemenag.go.id/opiniview/1632/hakikat-shalat-dan-syahwat). 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Shalat dan Syahwat, Bagaimana Hakikatnya"

Post a Comment